Peristiwa gempa yang menghebohkan dunia khususnya Asia Pasific, lebih khususnya di Negara Jepang yang menewaskan lebih dari sepuluh ribu orang. Sungguh aneh apakah ini benar-benar hanya bencana alam, atau warga Jepang telah berbuat kerusakan khususnya dalam bidang mental.
Bagi penulis kasus Jepang ini bisa ditinjau dari berbagai aspek misalnya agama, ingat peristiwa pengiriman Miyabi and Sakuragi ke Indonesia untuk membintangi film-film Indonesia. Hampir semua warga Islam tidak menyutujui kedatangan mereka, karena dapat merusak moral Indonesia yang pada dasarnya sudah rusak.
Inilah salah satu dampaknya, bahkan kematian ini tidak begitu parah, karena akibat gempa tersebut terdapat tiga PLTN rusak yang berdampak lebih panjang yaitu penyakit radiasi yang diakibatkan oleh Nuklir, dampaknya tidak terasa sekarang akan tetapi mungkin beberapa tahun kemudian , dan mengakibatkan kematian jangka panjang.
Sebaiknya Jepang mesti tau diri bahwa dirinya telah salah yang karena beberapa orang saja yang berbuat dosa maka murka Allah berdampak kepada orang yang tidak berdosa, akan tetapi ada hal positif yang bisa dilihat dari peristiwa tersebut apakah itu ?
Hal positif yang bisa dilihat dari hal tersebut ialah orang-orang Jepang selalu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa dilihat tidak ada penjerahan terhadap toko-toko atau rumah sangat hebat, bahkan dalam berbagai media-media elektronik diceritakan bahwa orang-orang Jepang tidak ada istilah bersabar dan bermalas-malasan dan menunggu bantuan, akan tetapi mereka bahu-membahu membangun kembali perekonomian mereka serta mental mereka.
Bagaimana kah Jika itu terjadi di Indonesia, ? apakah sama ? contoh saja Aceh ? menunggu dan menunggu ? semoga kita bisa dapat bangkit seperti orang-orang Jepang yang mampu bangkit, karena penulis melihat sangat sedikit sekali berita mengenai orang-orang Jepang yang berharap bantuan ? bahkan mereka masih kelihatan superior dimata dunia walaupun mereka terkena musibah. Ayo belajar kepada Jepang ?
Tuesday, March 15, 2011
Thursday, March 10, 2011
Bagiamanakah Seharusnya Media ?
Bagaimanakah peran media di Indonesia ? apakah hanya sebagai entertainment, infotaiment, atau sekedar news. Jika dilihat dari seni hiburan apakah sudah layak kah media elektronik menghibur masyarakat Indonesia, dengan musiknya kah ? lawaknya kah ? atau dengan talk shownya ?
Jika dilihat dari hiburan sungguh sangat disayangkan, hiburan yangs disajikan bukan berupa hiburan yang mendidik, bahkan menghina orang itu namanya hiburan. Jika dilihat dari musiknya apakah pantas ketika bangun pagi orang dengeran musik, ? penyajian media elektronik sekrang sudah mengandalkan kecintaan masyarakat, jika ratingnya bagus walaupun itu rusak akan tetap di pertahankan akan tetapi jika ratingnya jelek maka akan dibuang. Contoh yang paling mengherankan apakah pemerkosa itu baik ? atau tukang cerai itu baik ? tapi mengapa hal-hal seperti itu dipublikasikan secara menyeluruh kepada masyarakat dan bahkan semakin banyak penggemar , masya Allah.
Kemudian dilihat dari segi filmnya apakah mendidik filmnya ? banyak sekali sinetron yang mencerminkan hedonisme dalam dunia nyata padahal masih banyak orang susah.
Tidak ada dalam dunia nyata bahwa penididikan diukur dari materi atau uangnya, bahkan banyak sekali anak SMA yang dipernolehkan pacaran oleh orang tuanya, bahkan ada kisah film yang menceriminkan bahwa membantah orang tua boleh karena dilarang berhubungan cewek yang tidak disetujui.
Apakah ini media, yang lucunya media Indonesia jika ada suatu berita yang heboh semuanya meliputi bahkan sampai berulang ditelinga masyarakat, yang kasihan adalah masyarakat, karena hanya kepentingan sesaat yaitu uang masyarakat tidak mendapat pengetahuan yang baik.
Padahal media adalah salah satu alat untuk menghimpun masyarakat dan membina masyarakat menjadi lebih baik. Jika media bersatu bukan saling bersaing dengan kepentingan masing-masing maka niscaya Indonesia ini akan menjadi lebih baik.
Media seharusnya menjadi mereka sebagai pendorong masyarakat menuju lebih beradab misalnya harga barang naik, solusinya apa undang para pakarnya, atau penggunaan trans jakarta sebagai solusi macet, bahkan hiburan seperti musik harusnya menjadi pembelajaran kepada para remaja tentang keikhlasan bahkan kedermawanan karena mereka orang-orang berduit seharusnya seperti itu karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang baik dan penurut asalkan menuju kepada kebaikan.
Sebaiknya media juga menjadi faktor pendukung integrasi antara daerah-daerah yang lain misalnya memperkenalkan bahasa masing-masing antara pulau jawa, sumatera, sulawesi, Ambon dan Papua, NTB, dan Kalimantan. Karena dengan media isnya Allah menjadi berkah Indonesia.
Jika dilihat dari hiburan sungguh sangat disayangkan, hiburan yangs disajikan bukan berupa hiburan yang mendidik, bahkan menghina orang itu namanya hiburan. Jika dilihat dari musiknya apakah pantas ketika bangun pagi orang dengeran musik, ? penyajian media elektronik sekrang sudah mengandalkan kecintaan masyarakat, jika ratingnya bagus walaupun itu rusak akan tetap di pertahankan akan tetapi jika ratingnya jelek maka akan dibuang. Contoh yang paling mengherankan apakah pemerkosa itu baik ? atau tukang cerai itu baik ? tapi mengapa hal-hal seperti itu dipublikasikan secara menyeluruh kepada masyarakat dan bahkan semakin banyak penggemar , masya Allah.
Kemudian dilihat dari segi filmnya apakah mendidik filmnya ? banyak sekali sinetron yang mencerminkan hedonisme dalam dunia nyata padahal masih banyak orang susah.
Tidak ada dalam dunia nyata bahwa penididikan diukur dari materi atau uangnya, bahkan banyak sekali anak SMA yang dipernolehkan pacaran oleh orang tuanya, bahkan ada kisah film yang menceriminkan bahwa membantah orang tua boleh karena dilarang berhubungan cewek yang tidak disetujui.
Apakah ini media, yang lucunya media Indonesia jika ada suatu berita yang heboh semuanya meliputi bahkan sampai berulang ditelinga masyarakat, yang kasihan adalah masyarakat, karena hanya kepentingan sesaat yaitu uang masyarakat tidak mendapat pengetahuan yang baik.
Padahal media adalah salah satu alat untuk menghimpun masyarakat dan membina masyarakat menjadi lebih baik. Jika media bersatu bukan saling bersaing dengan kepentingan masing-masing maka niscaya Indonesia ini akan menjadi lebih baik.
Media seharusnya menjadi mereka sebagai pendorong masyarakat menuju lebih beradab misalnya harga barang naik, solusinya apa undang para pakarnya, atau penggunaan trans jakarta sebagai solusi macet, bahkan hiburan seperti musik harusnya menjadi pembelajaran kepada para remaja tentang keikhlasan bahkan kedermawanan karena mereka orang-orang berduit seharusnya seperti itu karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang baik dan penurut asalkan menuju kepada kebaikan.
Sebaiknya media juga menjadi faktor pendukung integrasi antara daerah-daerah yang lain misalnya memperkenalkan bahasa masing-masing antara pulau jawa, sumatera, sulawesi, Ambon dan Papua, NTB, dan Kalimantan. Karena dengan media isnya Allah menjadi berkah Indonesia.
Mengenal Muhammad Abduh (1849- 1888 M)
Abduh merupakan tokoh tafsir yang sangat rasional. Hal ini bisa dilihat dari pemikirannya yang menyempitkan wilayah ghaib. Pemikiran ini sangat wajar karena Abduh pada saat itu mencoba dan sangat terobsesi menjelaskan ajaran Islam di hadapan orang-orang Barat yang tidak memahami bahasa suprarasional.
Abduh pernah merasa bahwa dunia ini hanya kempungnya saja yaitu mahllat Nasr. Bahkan sejak kecil Abduh sudah merasa bahwa uang bukanlah segalanya. Karena kepala desanya sering menginap di rumahnya padahal kepada desa itu lebih kaya dari ayahnya.
Abduh menikah pada tahun 1865 ketika itu masih berumur 16 tahun. Bahkan setelah menikah Abduh menjadi pembenci ilmu pengetahuan. Pada tahun sebelumnnya yaitu 1864 Abduh pernah belajar al-Qur'an, akan tetapi hal tersebut tidak bertahan lama hanya selama dua tahun dia belajar kemudian Abduh pulang ke kampungnya lagi.
Pandangannya berubah ketika beliau bertemu dengan syek Darwisyi Khidr dan kembali mengaji di masjid Thanta. Pada tahun 1871 Abduh bertemu dengan jamaludin al-Afghani yang merubah sikap Muhammad Abduh yang dari tasawuf klasik hingga menjadi tasawuf dalam pergerakan dan memperbaiki masyarakat.
Setelah berubah pandangan Abduh mulai menulis Risalah al-Ridah (1873) Hasyiyah Syarh al-jalal al-Dawani li Aqa'id al-Dhudiyah (1875) ketika itu umurnya baru 26 tahun.
Pada umur 28 tahun beliau lulus dengan tingkatan tertinggi al-Azhar yaitu pada tahun 1877. Pada saat itu beliau lulus dari tingkatan Alamiyah (Kalau sekarang L.C). kemudian beliau mengajar manthiq dan ilmu kalam. Sedangkan di rumah beliau mengajar Tahdzib al-Akhlaq karangan Ibn Miskawaih (320- 366 H /932 - 983 M).
Pada tahun 1878 Muhammad Abduh mengajar di Dar Ulum sekrang menjadi Fakultas Bahasa Arab pada tahun 1879 al-Afghani diusir dan Abduh dihentikan dan diasingkan ke desanya Mahallat Nashr (Mesir)
Pada tahun 1882 telah terjadi revolusi Urabi terjadi dampaknya Abduh diasingkan tapi kali ini Abduh boleh memilih, dan Abduh memilih Suriah. setelah itu Abduh menyusul al-Afghani di Paris. Kemudian pada tahun 1884 beliau ke Inggris membela rakyat Mesir disana kemudian pada tahun 1885 Muhammad Abduh ke Beirut Lebanon dan mengarang tiga buku yaitu : Risalah Tauhid, Syarh Najhu al-Balaghah terjemahan dari al-Rashu al-Daruriyah bahasa Persia dan Syarh Mahqamat Ba'di Zaman al-Hamzani.
Pada tahun 1888 Abduh kembali ke Mesir kemudian pada tahun 1899 menjadi mufti di kerajaan Mesir. Kemudian pada tahun yang sama menjadi Anggota Majlis Syura kerajaan Mesir. Setelah itu tahun 1905 mempunyai niat mendirikan Universitas Kairo, akan tetapi Universitas tersebut baru berdiri setelah Abduh meninggal dunia dan Universitas tersebut sekarang bernama Universitas Kairo.
Abduh pernah merasa bahwa dunia ini hanya kempungnya saja yaitu mahllat Nasr. Bahkan sejak kecil Abduh sudah merasa bahwa uang bukanlah segalanya. Karena kepala desanya sering menginap di rumahnya padahal kepada desa itu lebih kaya dari ayahnya.
Abduh menikah pada tahun 1865 ketika itu masih berumur 16 tahun. Bahkan setelah menikah Abduh menjadi pembenci ilmu pengetahuan. Pada tahun sebelumnnya yaitu 1864 Abduh pernah belajar al-Qur'an, akan tetapi hal tersebut tidak bertahan lama hanya selama dua tahun dia belajar kemudian Abduh pulang ke kampungnya lagi.
Pandangannya berubah ketika beliau bertemu dengan syek Darwisyi Khidr dan kembali mengaji di masjid Thanta. Pada tahun 1871 Abduh bertemu dengan jamaludin al-Afghani yang merubah sikap Muhammad Abduh yang dari tasawuf klasik hingga menjadi tasawuf dalam pergerakan dan memperbaiki masyarakat.
Setelah berubah pandangan Abduh mulai menulis Risalah al-Ridah (1873) Hasyiyah Syarh al-jalal al-Dawani li Aqa'id al-Dhudiyah (1875) ketika itu umurnya baru 26 tahun.
Pada umur 28 tahun beliau lulus dengan tingkatan tertinggi al-Azhar yaitu pada tahun 1877. Pada saat itu beliau lulus dari tingkatan Alamiyah (Kalau sekarang L.C). kemudian beliau mengajar manthiq dan ilmu kalam. Sedangkan di rumah beliau mengajar Tahdzib al-Akhlaq karangan Ibn Miskawaih (320- 366 H /932 - 983 M).
Pada tahun 1878 Muhammad Abduh mengajar di Dar Ulum sekrang menjadi Fakultas Bahasa Arab pada tahun 1879 al-Afghani diusir dan Abduh dihentikan dan diasingkan ke desanya Mahallat Nashr (Mesir)
Pada tahun 1882 telah terjadi revolusi Urabi terjadi dampaknya Abduh diasingkan tapi kali ini Abduh boleh memilih, dan Abduh memilih Suriah. setelah itu Abduh menyusul al-Afghani di Paris. Kemudian pada tahun 1884 beliau ke Inggris membela rakyat Mesir disana kemudian pada tahun 1885 Muhammad Abduh ke Beirut Lebanon dan mengarang tiga buku yaitu : Risalah Tauhid, Syarh Najhu al-Balaghah terjemahan dari al-Rashu al-Daruriyah bahasa Persia dan Syarh Mahqamat Ba'di Zaman al-Hamzani.
Pada tahun 1888 Abduh kembali ke Mesir kemudian pada tahun 1899 menjadi mufti di kerajaan Mesir. Kemudian pada tahun yang sama menjadi Anggota Majlis Syura kerajaan Mesir. Setelah itu tahun 1905 mempunyai niat mendirikan Universitas Kairo, akan tetapi Universitas tersebut baru berdiri setelah Abduh meninggal dunia dan Universitas tersebut sekarang bernama Universitas Kairo.
Subscribe to:
Posts (Atom)