Tuesday, October 2, 2012

Kemenangan Jokowi Merusak Citra Putra Daerah

        Kemenangan Jokowi di pemilukada DKI Jakarta sungguh mengejutkan. Coba kita bayangkan seorang yang berada di luar Jakarta, bahkan Jokow tidak ikut memilih karena Ia bukan warga Jakarta. Adapun pendekatan yang dilakukan cukup sederhana yaitu mendekati wong cilik dengan pergi ke pasar-pasar. Bahkan dana kampanyenya cukup murah dengan membeli kopi. kemudian nongkrong bareng bersama warga diskusi, dan cerita mengenai keluhan mereka.
      Ini seharusnya dilakukan oleh putra daerah manapun, coba kita bayangkan jika semua putra daerah ingin memajukan daerahnya, maka sebaiknya mereka turun ke lapangan. Pemilu Jakarta ini menaggambarkan bahwa putra daerah harus siap bersaing dengan orang luar. Jika tidak ingin dikalahkan turunlah ke lapangan dan lihatlah warga masyarakat yang membutuhkan bantuanmu. 

Thursday, June 21, 2012

Tradisi Majlis Ta'lim di Jakarta

Sungguh senang melihat kehidupan yang agamis, di Ibu kota. Alangkah indahnya melihat beberapa tradisi Islam nampak di Ibu kota, hal ini diimbangi dengan begitu banyak maksiat yang beredar di jakarta. sampai-sampai sulit membedakan mana yang agamis dan mana yang ahli maksiat. Terdapat satu hal yang menjadi perhatian penulis, dalam menyiikapi tradisi Majlis Ta'lim. Kita ketahui bahwa majlis ta'lim adalah tempat orang-orang mencari ilmu pengetahuan agama dengan cara mendengarkan ceramah, mengaji, dan disertai dengan zikir bersama. Akan tetapi dari sekian banyak majlis ta'lim, tidak mampu melumpuhkan setan- setan di kota Jakarta. Mau buktinya? banyak terjadi peerkelahian karena ketersinggungan kata atau yang lain. Tawuran antar pelajar, pencopetan, dan anak-anak punk yang membuat resah para penggunaan jalan. Coba kita pikirkan masing-masing, begitu banyak orang yang mengikuti majlis ta'lim tapi tidak bisa menularkan ajaran Islam kepada orang yang disekitarnya. Mengapa hal ini bisa terjadi. Coba kita pikirkan sekali lagi, jika satu majlis ta'lim bisa mendatangkan seratus orang saja. Kemudian seratus orang tadi menjadi uswatun hasanah di lingkungannya, mungkin dalam kota Jakarta bisa terjadi kedamaian, tidak ada korupsi, dan ketesinggugan. Akan tetapi hal ini tidak terjadi, saya tidak mengetahui siapa yang salah majlis ta'limnya atau orang yang mengikutinya. Penulis teringat pada tradisi agama Kristen sebelum terjadinya revolusi yang dilakukan oleh Marthin Luther King. Pada masa itu gereja dijadikan sebagai alat penebus dosa, seolah-olah gereja menjadi mesin cuci mereka, setelah itu mereka melakukan dosa lagi. Pada saat itu eropa lagi sibuk dengan penemuan pabrik-pabrik, mereka sehingga kapitalisme pada saat itu merajelela, bahkan kehidupan hedonisme menjadi gaya hidup pada saat itu. Hal ini mengakibatkan kehidupan agama hanya sebagai selingan bagi kehidupan mereka, sehingga tidak ada lagi kehidupan agama yang damai dan sejahtera. Kehidupan ini mengakibatkan gereja dibayar untuk mencuci dosa mereka, gereja kemudian dijadikan alat pencuci dosa mereka, hal ini mengakbatkan terjadinya revolusi gereja yang sangat geram terhadap perbuatan dosa tersebut, karena bagi Marthin Luther King Agama tidak boleh menggunakan uang atau materi untuk mendapatkannya. Penulis takut hal ini terjadi juga di kota Jakarta, meskipun dalam majlis ta'lim tidak mengeluarkan uang, akan tetapi penulis takutkan ialah majlis ta'lim dijadikan alat untuk mencuci dosa-dosa pengikutnya. Artinya majlis ta'lim tidak akan menularkan kepada para pengikutnya. Hal inilah yang ditakutkan penulis, akan tetapi ini sudah terbukti majlis ta'lim tidak bisa menularkan, bahkan beberapa calon presiden dan gubernur berbondong-bondong untuk mendapatkan dukungan dengan mengikuti majlis ta'lim . Astagfirullah semoga pemikiran ini tidak benar, akan tetapi penulis telah merasakannya dengan tidak berubahnya kota jakarta yang pemikirannya selalu materi atau uang-uang. Bukan tradisi sufi yang didapat, akan tetapi sikap hedonisme kota jakarta yang tidak bisa dibendung.

Tuesday, June 19, 2012

Toleransi Di Ibu Kota Jakarta

          Ini merupakan pengalaman penulis, ketika ingin menyeberang di Bandara Soekarna Hatta, Sungguh disayangkan ketika melakukan penyeberangan tidak ada mobil yang mengizinkan untuk lewat, padahal banyak orang yang ingin melakukan penyeberangan. Ini masih contoh kecil, masih banyak lagi toleransi yang kurang di dapatkan di Ibu kota.
          Siapakah yang salah? kita harus berkaca pada diri masing-masing. Mengapa sampai seperti ini apakah pemerintah ? atau pejabat daerah yang membentuk karakter orang-orang Jakarta menjadi tidak saling peduli. Penulis merasa ini adalah tanggung jawab kita semua.
         Ada beberapa solusi yang ingin ditawarkan oleh penulis dalam menghilangkan sikap cuek atau acuh tak acuh di Ibu kota. Solusi terbaik ialah , melibatkan agama dalam setiap mengatasi permasalahan di Indonesia. Karena  agama  bertugas  membina akhlak manusia, Sehingga  rakyat Indonesia yang didominasi umat Islam, bisa menjadi lebih baik. Maka peran ulama sangat diharapkan dalam membentuk karakter muslim, jika karakter muslim terbentuk dalam lingkungan Indonesia, khususnya kota-kota besar. Maka akan tercipta kedamaian dan sikap saling menghargai, bahkan toleransi akan tercipta. Penulis meyakini hal tersebut.
         Hal ini bisa dilihat dari kasus penyebaran muslim di Saudi Arabi, Nabi Muhammad tidak menyuruh orang untuk mengikutinya, tetapi Rasulullah mengajak orang dengan akhlaknya, sehingga orang-orang disekitar lingkungan tersebut tertarik dan bersimpati kepadanya. Beginilah seharusnya pemimpin Indonesia menciptakan akhlak yang baik dengan cara menjadi suri tauladan seperti Nabi.  Untuk menemukan pemimpin tersebut Indonesia butuh manusia yang telah dididik dari kecil hingga dewasa dalam lingkungan agama Islam. Sebagaimana Nabi yang dididik langsung oleh Allah SWT.